Friday, July 14, 2017

5 Teknik Foreplay (Pemanasan) Sebelum Seks Dalam Islam

Tags

Islam mengatur segalanya, termasuk berhubungan badan. Untuk mencapai orgasme diperlukan pemanasan yang cukup. Banyak teknik-teknik seputar foreplay atau pemanasan sebelum melakukan seks dalam Islam. Tidak hanya mesin yang butuh pemanasan, ternyata berhubungan seks pun memerlukannya. Suri teladan kita, Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- juga telah menyampaikan kepada umatnya agar tidak langsung tancap gas tatkala menaiki kendaraan, Beliau menganjurkan hendaknya sebuah hubungan seks diawali dengan cumbu rayu yang penuh kasih sayang.

"Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya bak seekor binatang. Hendaklah terlebih dahulu ia memberikan rangsangan dengan ciuman dan rayuan." (Riwayat At-Tirmidzi)

Ibnul Qayyim menjelaskan, "Satu hal yang perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum berjimak adalah mencandai pasangan wanita, mencium, dan mengulum lidahnya."

Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- sendiri biasa mencandai dan menciumi istrinya. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunan-nya bahwa Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- mencium Aisyah dan mengulum lidahnya."

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- melarang menyetubuhi seorang istri tanpa melakukan sofcore terlebih dahulu.

Beginilah tata cara jima menurut syariat Islam.

Pemanasan Sebelum Bersetubuh Dalam Islam


Teknik Foreplay (Pemanasan) Sebelum melakukan seks dalam Islam


Pemanasan bersetubuh yang pertama ialah, berdzikir dan berdoa. Mulailah dengan basmalah, memohon perlindungan Allah dari campur tangan setan terkutuk. Yakni membaca doa khusus, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat,

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- pernah bersabda, "Bila salah seorang dari kalian akan mendatangi istrinya maka hendaknya membaca,"Bismillah allahumma jannib nasy syaithana wa jannibisy syaithana ma rozaqtana."
(Artinya: Dengan nama-Mu ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang telah Engkau berikan. Apabila hubungan itu ditakdirkan lahirnya anak, tidak dicelakakan selamanya)





Usai berdzikir dan berdoa, apa yang harus dilakukan? Simak dan lakukan hal-hal berikut ini:

1. Rayuan



Sebelum melakukan badan, ada baiknya rayulah terlebih dahulu pasanganmu. Wanita biasanya lebih romantis daripada pria, walaupun dalam beberapa kasus terdapat wanita yang kurang memiliki sense of romantic. Banyak hal yang bisa menyebabkan seorang wanita tidak memiliki sifat romantis. Di antaranya adalah pendidikan orang tua yang jauh dari kasih sayang dan pendidikan yang hanya mengandalkan kekerasan dan akal. Kedua hal tersebut bisa mengakibatkan hati menjadi keras dan kaku. Bila hal itu terjadi secara terus menerus dalam waktu yang cukup lama, pribadi tersebut tidak atau kurang memiliki sifat romantis.

Jika wanita lebih memiliki sifat romantis, maka dibutuhkan rayuan yang cukup untuk membuatnya terbang dalam gairah. Rayuan itu bisa berupat kalimat-kalimat pujian sebagai ungkapan rasa kasih sayang. Atau bahkan kalimat yang lebih menjurus dan seronok, tanpa perlu malu-malu meski harus menyebut organ-organ vital dengan bahasa vulgar. Kata-kata itu dalam bahasa fikih disebut rafats. Kata-kata seronok atau yang menjurus pada hal-hal yang membangkitkan gairah seks semacam itu, tentu haram dilontarkan kepada orang lain, atau diucapkan antara pasutri ketika sedang beribadah haji dan umrah. Namun tidak demikian halnya bila kata-kata itu dilontarkan oleh seorang suami kepada istrinya, atau sebaliknya. Khususnya ketika hendak atau sedang melakukan hubungan seks.

Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- pernah bersabda yang intinya adalah menganjurkan para pemuda untuk memilih seorang gadis, dengan alasan bisa diajak bercanda dan saling menggigit bibir. Dengan makna tersirat bahwa hubungan suami istri akan bertambah mesra -terutama tatkala berhubungan seks- bila terdapat di dalamnya canda dan cumbu rayu.

Saat Jabir menikahi seorang janda, Rasulullah bertanya kepadanya, "Kenapa engkau tidak menikah seorang gadis sehingga kalian bisa saling bercanda ria?" "...yang dapat saling menggigit bibir denganmu?"

2. Ciuman


Melakukan ciuman untuk memberikan rangsangan adalah sunah. Dalam sebuah hadits Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda. yang artinya:


"Janganlah seorang di antara kalian menggauli istrinya bak seekor binatang. Hendaklah terlebih dahulu ia memberikan rangsangan dengan ciuman dan rayuan." (Riwayat At-Tirmidzi)

Sebagaimana halnya pelbagai keterampilan yang ada, ciuman juga ada ilmunya. Tidak selayaknya seorang suami mencium istrinya secara sembarangan, sehingga justru mengakibatkan pasangannya itu menjadi risih dan menurun gairahnya. Merangsang istri sederhana. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan ciuman.

Pertama-tama, tentu saja nafas harus segar, minimal tidak berbau. Karena Islam amat membenci sesuatu yang kotor dan bau. Cara melenyapkan bau mulut itu bisa dengan bersiwak, makan permen mint, atau berkumur dengan obat kumur non alkohol. Lakukan semua itu dengan rileks dan nyaman, tanpa ada paksaan atau tekanan.

Ciuman itu bak karya seni. Semakin dalam Anda melibatkan perasaan dan semakin variatif teknik yang Anda gunakan, semakin indah karya seni Anda.

Soal variasi teknik, bisa Anda ciptakan sendiri. Yang jelas, dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- juga pernah mencium 'Aisyah dan mengulum lidahnya, padahal beliau sedang berpuasa. Itu menunjukkan, bahwa di antara cara berciuman yang baik bagi pasutri adalah dengan mengulum lidah pasangannya.

Berbagai teknik dan cara juga bisa dilakukan pasutri, asalkan tidak ada unsur pelanggaran. Karena asal dari segala bentuk cumbuan antara pasutri adalah halal, kecuali bila ada dalil yang mengharamkannya.

Kedua tangan manfaatkan dengan meletakkannya di bagian-bagian tubuh pasangan wanita, payudara misalnya. Lakukan dengan lembut. Ada juga sebagian wanita lebih merasa nyaman jika kedua tangan pasangannya memegang kedua pipinya atau menarik rambutnya dengan lembut. Setiap wanita, mungkin memiliki kenyamanan sendiri-sendiri, dengan cara-cara tersendiri pula.

3. Sentuhan


Sentuhan dan rabaan amat membantu dalam pemanasan. Adapun meraba seluruh bagian tubuh termasuk kemaluan diperbolehkan oleh syariat. Syaikh Nashiruddin Al-Albani mengutip perkataan Ibnu 'Urwah Al-Hambali dalam kitabnya yang masih berbentuk manuskrip, Al-kawaakibu Ad-Durari:


"Diperbolehkan bagi suami dan istri melihat dan meraba seluruh lekuk tubuh pasangannya, termasuk kemaluan. Karena kemaluan adalah bagian tubuh yang boleh dinikmati ketika bercumbu, maka tentu diperbolehkan melihat dan merabanya -seperti halnya bagian tubuh lainnya"-. Diambil dari pandangan Imam Malik dan ulama lain.

Sementara Ibnu Taimiyah berkata, "Tidak diharamkan seorang suami memandang seluruh tubuh istrinya dan meraba-rabanya hingga kemaluannya sekalipun."

Diperlukan cukup wawasan dan pengalaman, mengenai beberapa tempat yang bila mendapat sentuhan akan mampu menumbuhkan rangsangan yang cukup guna persiapan melakukan penetrasi. Misalnya: bibir, leher, payudara, bagian bawah pusar, paha bagian dalam, vagina, dzakar, dan batang penis. Hal itu bisa didiskusikan empat mata, antara suami dengan istri, dalam dialog ringan, atau di tengah obrolan santai. Semua itu membutuhkan keterbukaan. Karena Islam amat menyukai keterbukaan, selama dalam koridor syariat, apalagi antara suami istri, di mana yang satu menjadi aurat pasangannya.

Sensitivitasnya berbeda dari satu titik ke titik yang lain. Yang paling penting adalah mengenali bagian mana yang paling sensitif. Untuk ini diperlukan sejenis 'latihan' dan pengalaman yang cukup.

Rangsangan yang paling baik hasilnya adalah jika dilakukan dari titik yang sensitivitasnya paling kecil, lalu meningkat sampai ke yang paling sensitif. Sensasi kenikmatannya tatkala orgasme akan lebih hebat, dibandingkan jika meloncat-loncat dari yang tidak terlalu sensitif ke yang paling sensitif lalu kembali lagi.

4. Menanggalkan Seluruh Pakaian



Salah satu dari kenikmatan yang dihalalkan Allah bagi pasangan suami istri adalah pernikahan. Di dalam bingkai pernikahan terdapat bentuk kenikmatan yang tak terdapat pada bingkai-bingkai kehidupan lain, yaitu kenikmatan memandang seluruh bagian tubuh dari pasangan. Dari yang biasa tampak hingga sisi-sisi yang paling intim.

Sebagaimana pepatah, "Darimana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati". Awal dari bermulanya gairah seks kepada lawan jenis adalah dari pandangan mata. Yang akhirnya memicu sang suami untuk menggapai puncak kenikmatan melalui hubungan seks dengan sang istri.

Dengan demikian kebebasan menanggalkan seluruh pakaian adalah salah satu bentuk pemanasan yang mampu meningkatkan gairah hingga pada taraf siap benar melakukan hubungan seks. Dengan menikmati pandangan yang tak bisa dinikmati secara halal pada konteks sembarang wanita atau laki-laki, gairah akan semakin menggelora dan membuat organ-organ khusus semakin siap untuk melakukan tugasnya. Berhubungan seks dalam keadaan tanpa berpakaian sama sekali, juga diyakini mampu memberikan efek yang mendalam dan kenikmatan tersendiri.

Sebagian kalangan berpendapat terlarang melihat aurat -kemaluan- pasangannya dengan berpedoman dari beberapa hadits. Namun, setelah para ulama mengadakan penelitian terhadap hadits-hadits tersebut, ternyata tidak ada satu hadits pun yang bisa dijadikan hujjah atas pelarangan melihat aurat atau kemaluan pasangan. Hadits berikut misalnya:

"Apabila di antara kalian mendatangi istrinya, hendaknya berpakaian. Janganlah ia telanjang sebagaimana layaknya dua ekor unta." (Riwayat Ibnu Majah)

Syaikh Nashiruddin Al-Albani menyatakan bahwa sanad hadits tersebut lemah sehingga tidak bisa dijadikah hujjah. Sementara riwayat-riwayat yang lain termasuk dalam kelompok hadits munkar dan mursal.

Syaikh Musthafa Al-'Adawi menjelaskan, "Ibnu Hazm menjelaskan dalam Al-Musthafa (X : 33), 'Halal hukumnya seorang suami melihat kemaluan istrinya sendiri, atau kemaluan budak wanitanya yang sudah halal dia gauli. Keduanya juga boleh melihat kemaluannya, tidak dilarang sama sekali." Lalu beliau memaparkan dalil-dalilnya secara lengkap.

Sedangkan dalil yang lebih kuat -yang mendukung diperbolehkannya melihat aurat pasangan- adalah, dari 'Aisyah:

"Aku pernah mandi bersama Rasulullah dalam satu bejana. Kedua tangan kami saling mengapit. Beliau mendahuluiku mengambil air. Aku pun segera berkata, 'Biarlah aku mengambilnya!.'

Dalam Fathul Baari, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa seorang suami atau istri diperbolehkan memandang aurat pasangannya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari jalan Sulaiman bin Musa, bahwa ia pernah ditanya apakah seorang laki-laki diperbolehkan melihat kemaluan istrinya? Beliau menjawab:"Aku juga pernah bertanya kepada Aisyah tentang hal itu, lalu Aisyah menyebutkan hadits tersebut di atas. Ini merupakan nash yang jelas dalam persoalan itu."

Dalam hadits yang lain Rasulullah pernah bersabda yang maknanya adalah diperbolehkan melihat aurat suami atau istri secara keseluruhan.

"Jangan perlihatkan auratmu, melainkan kepada istrimu dan budak wanita yang engkau miliki."

Dengan demikian jelas bahwa memandang aurat dan kemaluan pasangan adalah halal hukumnya. Tentunya ada hikmah di balik hal itu, di antaranya adalah semakin bergeloranya gairah tatkala melihat sesuatu yang pada asalnya amat dirahasiakan. Dengan demikian mesin semakin panas, dan siap untuk melakukan perjalanan ke awang-awang.

5. Rintihan dan Desahan


Salah satu yang mampu membuat -biasanya kaum suami- amat terangsang adalah mendengar rintihan dan desahan penuh rasa dan kenikmatan sang istri.

Abdu bin Humaid meriwayatkan dari Ibnu Mundzir sebagaimana yang dinukil oleh Imam As-Suyuthi dalam tafsir Ad-Duraru al-Mantsur, bahwa Muawiyah bin Abu Sufyan pernah suatu kali mengajak istrinya berhubungan intim. Tiba-tiba sang istri mengeluarkan desahan nafas dan rintihan yang penuh gairah, sehingga sang istri malu dengan sendirinya. Namun beliau justru menanggapi, "Tak jadi masalah, sungguh demi Allah yang paling menarik pada diri kalian adalah desahan nafas dan rintihan kalian."


"Imam As-Suyuthi juga meriwayatkan, bahwa ada seorang qadhi yang tengah menggauli istrinya. Tiba-tiba sang istri meliuk dan mendesah nafasnya. Qadhi pun menegurnya. Namun tatkala Qadhi menggauli istrinya lagi, ia justru berkata, "Coba lakukan lagi seperti kemarin." (Raqaaiqu Ar-Ruj: 9)

Ibnu Abbas pernah ditanya tentang hukum desahan dan rintihan yang dilakukan tatkala berhubungan seks. Beliau menjawab, "Apabila engkau menggauli istrimu, berbuatlah sesukamu!"

Ada sebagian kalangan berpendapat bahwa hubungan seks adalah sesuatu yang sakral, ibarat shalat. Sehingga haram untuk diselingi rintihan atau desahan. Akhirnya hubungan seks pun dalam tekanan diam seribu bahasa. Dan dari keterangan di atas jelas sekali bahwa hal itu adalah salah.

Bebas mengungkapkan ekspresi tatkala melakukan hubungan seks adalah halal. Di samping itu, kenikmatan berhubungan seks akan semakin indah tatkala diiringi dengan rintihan dan desahan nan penuh gairah.

Artikel Terkait

Seorang Blogger amatir yang ingin sekali memberikan manfaat kepada orang banyak.

23 comments

ternyata mau hubungan intim juga butuh pemanasan ya baru tau ane, makasih infonya gan

banyak hal yang musti di lakuin iya sebelum ena ena .
Jangan lupa baca bismillah

Pemanasan itu wajib. Tidak boleh terburu-buru hehehe..

menikmati proses, mulai dari pemanansan dulu baru ke inti

pemanasan/ foreplay memang wajib sebelum malakukan hubungan intim. masak iya langsung srobot aje :v

wooo.. emang bagus foreplay dulu sebelum gitu-gitu yah :D

Hmm jadi pengen cepat nikah :D

Nice info min, ternyata sebelum melakukan hubungan intim di dalam islam ada pemanasannya juga. Artikelnya juga bagus ada riwayatnya.

baru tau ane kalo dalam hub. intin ada pemanasann ane kira langsung gitu aja

memang harus diawali rayuan gan... mantab makasi banyak informasinya....

wah kayaknya ts sudah sangat berpengalaman ya :-d
nice info gan (y)

wah bagus nih sesuai syariat islam.. yang belum halal gak boleh coba ya hehehe

eyalah mau berhubungan juga harus pemanasan ya gan gua kiran langsung aja thanks gan infonya

Pemanasan memang harus , biyar kedepanya bisa lancar hehe

Gmlirik dot blogspot dot com

Buru nikah.. Rasulullah dulu sangat getol sekali dalam menikahkan pemuda. Karena dampak pemuda yg belum menikah sangat besar sekali bagi kesehatan akal dan tubuhnya.

Kasian dong pasangannya kalau main serodot aja :)

Salah satu bukti kebenaran agama Islam.. Mengatur seluruh aspek kehidupan. Sampai masalah seks pun ada aturannya.

Lumayan buat pengetahun terlebih dahulu,makasih untuk informasi artikel nya mas ^ - ^

Jangan berhubungan intim seperti layaknya hewan, kita harus tau aturannya, dan aturannya seperti diatas, thanks gan

waduh, barutau kalau kudu ada pemanasan :D


EmoticonEmoticon